Jurnal Selatan Papua

Berita untuk kita

Wariskan Budaya Noken Lewat Kurikulum Muatan Lokal

Merauke, Jurnal Selatan Papua – Upaya pelestarian budaya Papua Selatan terus digelorakan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Selatan, Ignasius Babaga, resmi membuka Sosialisasi Kurikulum Muatan Lokal (Mulok) yang digelar di Hotel Halogen Merauke, Rabu (1/10/2025).

Kegiatan ini mengangkat tema “Cinta Noken Cinta Papua Selatan” dengan subtema “Dengan kurikulum muatan lokal kita wariskan budaya sebagai identitas Papua Selatan – Belajar Berkarya dengan Kearifan Lokal untuk Masa Depan Global.” Sosialisasi diikuti 50 guru muatan lokal dari empat kabupaten serta 10 perwakilan Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Merauke.

Noken dalam Dunia Pendidikan

Dalam sambutannya, Ignasius menegaskan pentingnya memasukkan Noken sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal.

“Noken bukan sekadar tas tradisional, tetapi simbol kehidupan, persatuan, kerja keras, dan keberlanjutan alam. UNESCO telah menetapkan Noken sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menghadirkannya dalam dunia pendidikan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya mencerdaskan anak bangsa secara akademik, tetapi juga membentuk karakter, identitas, serta kebanggaan terhadap budaya lokal.

Empat Tujuan Kurikulum Noken

Penyusunan kurikulum muatan lokal Noken diharapkan dapat:
1. Melestarikan kearifan lokal agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
2. Mengenalkan identitas budaya Papua Selatan kepada generasi muda sejak dini.
3. Mendorong kreativitas siswa melalui praktik langsung pembuatan Noken.
4. Menanamkan nilai-nilai karakter seperti kerja sama, gotong royong, dan kecintaan pada lingkungan.

“Saya berharap kurikulum muatan lokal ini tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi benar-benar hidup, kontekstual, dan menyatu dengan keseharian anak-anak Papua Selatan,” tambah Ignasius.

Apresiasi dan Harapan

Ignasius memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari narasumber, tim penyusun, guru, hingga pemangku kepentingan pendidikan dan kebudayaan. Ia menekankan bahwa kolaborasi bersama sangat penting agar Noken tidak hanya dikenal, tetapi juga menjadi identitas yang diwariskan melalui pendidikan formal.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Khusus Oliva Koneng menegaskan, keberadaan kurikulum ini akan memberi jaminan bahwa warisan budaya tak benda, khususnya Noken, dapat terus dipelajari lintas generasi.

“Sekolah dapat membantu mewariskan budaya tak benda, khususnya Noken, dengan membuat kurikulum dalam bentuk dokumen sah sehingga dapat terus berlanjut dan diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Oliva.

Momentum Penting

Sosialisasi ini dipandang sebagai langkah strategis dalam melestarikan warisan budaya Papua Selatan sekaligus memperkuat identitas generasi muda. Melalui jalur pendidikan, nilai-nilai kearifan lokal diharapkan dapat menyatu dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budaya. (Tya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *