Merauke, Jurnal Selatan Papua – Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES) Perwakilan Provinsi Papua Selatan terus memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan malaria (ATM) sebagai bagian dari komitmen mendukung target eliminasi ketiga penyakit tersebut pada tahun 2030.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut atas penugasan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) kepada ADINKES untuk mendorong penguatan kebijakan dan implementasi program ATM di daerah.
Sebagai bentuk komitmen itu, ADINKES Papua Selatan menggelar Workshop Petunjuk Teknis Integrasi AIDS-Tuberkulosis-Malaria (ATM) dan Kebijakan Nasional Tingkat Provinsi di Hotel Halogen Merauke, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah untuk mengevaluasi pelaksanaan program sekaligus menyusun langkah strategis dalam mempercepat pengendalian ATM di Papua Selatan.
Data yang dipaparkan dalam workshop menunjukkan bahwa HIV/AIDS, TBC, dan malaria masih menjadi persoalan kesehatan global dengan dampak yang luas. Ketiga penyakit tersebut tidak hanya menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian, tetapi juga menimbulkan beban sosial dan ekonomi yang signifikan.
Secara global, setiap tahun diperkirakan terdapat 1,3 juta kasus baru HIV, 10,7 juta kasus TBC, dan 282 juta kasus malaria. Kondisi ini turut tercermin di Papua Selatan yang hingga tahun 2026 masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian ATM.

Tercatat, estimasi kasus Tuberkulosis di Papua Selatan mencapai 4.606 kasus. Sementara itu, jumlah kasus HIV dan AIDS secara kumulatif masing-masing sebanyak 392 kasus HIV dan 220 kasus AIDS. Di sisi lain, malaria masih menjadi ancaman serius dengan total 180.582 kasus positif yang dilaporkan.
Selain tingginya angka kasus, belum satu pun dari empat kabupaten di Provinsi Papua Selatan yang mencapai status eliminasi malaria. Seluruh wilayah masih berada dalam tahap menuju eliminasi, sehingga diperlukan kerja sama lintas sektor yang lebih intensif.
Mewakili Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Nelson Sasarari, menegaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan upaya pencegahan dan pengendalian ATM secara sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Upaya ini harus terus diperkuat agar target eliminasi ATM pada tahun 2030 dapat tercapai. Workshop ini menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan bersama,” ujarnya.
Nelson mengakui bahwa angka kasus HIV/AIDS, TBC, dan malaria di Papua Selatan masih memprihatinkan. Menurutnya, perubahan perilaku hidup masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam menekan laju penularan ketiga penyakit tersebut.
Ia berharap, melalui peningkatan kesadaran dan penerapan perilaku hidup sehat, angka kasus ATM dapat terus ditekan sehingga cita-cita eliminasi pada tahun 2030 dapat diwujudkan.
“Apapun kegiatan yang dilakukan untuk Orang Asli Papua harus menjadi prioritas, karena pada hakikatnya kita sedang menyelamatkan kehidupan manusia,” tutup Nelson. (Tya)











Leave a Reply