Merauke, Jurnal Selatan Papua – Pemerintah Provinsi Papua Selatan mengapresiasi dan berkomitmen mendukung karya dan pelayanan para suster PBHK (Putri Bunda Hati Kudus) di Bumi Anim Ha.
Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa saat menghadiri sekaligus menyampaikan sambutan dalam perayaan hari pesta Maria Bunda Hati Kudus yang digelar di Biara PBHK, Merauke pada Jumat (30/5/2025) malam
Pemerintah Provinsi Papua siap berjalan bersama lembaga-lembaga keagamaan dalam membangun peradaban kasih, pelayanan, dan kesejahteraan di tanah Papua, umum dan khusunya di Papua Selatan.
Paskalis mengatakan, kehadiran PBHK di Tanah Papua, khususnya di Selatan Papua, merupakan suluh terang yang tidak hanya membawa pelayanan iman, namun juga pengabdian konkret kepada masyarakat.
“Agama Katolik adalah anak sulung di Tanah Selatan Papua ini. Dalam kebijakan apapun, kita harus mencerminkan bahwa kita ini anak sulung dan tetap menjadi sulung,” tegas Paskalis.
Paskalis berharap karya para suster dapat menjangkau kampung-kampung, bahkan ia mendorong agar ke depan lahir suster PBHK dari kalangan Orang Asli Papua (OAP).
Tak hanya menyoroti sisi iman, Paskalis juga menyinggung soal pentingnya komunikasi yang intens dan kolaboratif antara pemerintah daerah dan lembaga keagamaan.
“Mari kita terus bersinergi dan berkolaborasi agar dalam pelayanan kasih, kita tetap berkenan kepada Tuhan dan rendah hati terhadap sesama,”ujar Paskalis.
Paskalis menutup sambutannya dengan meminta berkat langsung dari Uskup kepada dirinya dan seluruh jajaran pemerintahan.
Dalam kesempatan yang sama, Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, menyampaikan homili reflektif namun lugas.

Ia mengajak seluruh umat Katolik, khususnya para suster PBHK, untuk tidak sekadar bangga dengan identitas keanggotaan religius, tetapi menunjukkan kesaksian hidup yang nyata.
“Saya tidak mau bicara banyak tentang semangat Hati Kudus. Tapi buktikan. Tunjukkan. Itu lebih penting daripada sekadar berkata MSC, tapi hidup kelabu,”tegas Uskup Mandagi.
Ia juga menyoroti kondisi fisik rumah PBHK di Merauke yang menurutnya perlu dibenahi. Mandagi mengusulkan kepada pemerintah daerah agar halaman biara diperbaiki dan ditata dengan paving serta taman bunga yang rapi.
“Walaupun rumah sederhana, penampilan harus tetap indah. Kerapihan menunjukkan karakter,”ujarnya.
Uskup juga menyinggung perlunya regenerasi dari kalangan lokal. Sedih juga kalau akhirnya sudah tidak ada lagi suster PBHK dari Papua Selatan.
Sementara itu, Bupati Merauke Yoseph B. Gebze yang juga hadir dalam acara tersebut, mengajak seluruh pihak untuk terus mempererat komunikasi antara pemerintah dan lembaga keagamaan.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah daerah terbuka terhadap masukan dari para suster dan siap untuk mendukung keberlanjutan pelayanan mereka.
“Kehadiran kita di sini bukan karena jabatan, tapi karena buah dari persembahan diri para suster,”kata Bupati Yoseph. Ia mengakui mungkin ada kekeliruan komunikasi sebelumnya dan berharap hal ini menjadi momen memperbaiki hubungan agar lebih intens dan terbuka ke depan.
Bupati Yoseph juga menekankan pentingnya nilai-nilai kasih, kerendahan hati, dan kesetiaan yang dihidupi oleh para suster harus menjadi inspirasi bagi semua lapisan masyarakat, termasuk para pelayan publik.
Peringatan hari pesta Maria Bunda Hati Kudus ini menjadi bukti nyata sinergi lintas iman dan pemerintahan di Papua Selatan. (Ci)











Leave a Reply