Jurnal Selatan Papua

Berita untuk kita

Festival ART Mr-Oke Kolaborasi Meriahkan Hari Kebudayaan Nasional 2026 di Merauke

Merauke, Jurnal Selatan Papua – Sejumlah pelaku seni di Kabupaten Merauke berkolaborasi menggelar Festival Mr-Oke Kolaborasi dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan Nasional 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 24–25 Oktober 2026, di halaman Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Merauke ini melibatkan komunitas seni, sanggar, perupa, grup musik, serta individu yang bergerak di bidang seni dan budaya.

Festival yang mengusung semangat kolaborasi tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Merauke, Thomas Kimko, pada Sabtu (24/10/2026). Peringatan Hari Kebudayaan Nasional tahun ini mengangkat tema “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya”, dengan puncak peringatan pada 17 Oktober 2026.

Dalam sambutannya, Thomas Kimko menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif komunitas seni di Merauke yang telah menghadirkan kegiatan positif untuk mendukung pelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah. Menurutnya, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca dan mencari informasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang kreativitas, edukasi, dan pengembangan potensi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa pihaknya terbuka untuk menjalin kolaborasi dengan para seniman melalui berbagai kegiatan yang bermanfaat. Salah satunya melalui program Warung Literasi yang dirancang tidak hanya sebagai tempat berjualan, tetapi juga sebagai ruang pengembangan diri dan apresiasi terhadap karya serta jasa para pelaku seni.

“Percayalah bahwa semua kegiatan positif, apalagi di bidang seni, jika dikembangkan dengan baik akan memberikan hasil yang memuaskan. Semoga kegiatan seperti ini terus dilakukan demi mengangkat seni dan budaya daerah lewat karya seni,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Art Kolaborasi, Hendrikus Kasimirus Dumatubun, mengatakan bahwa festival tersebut merupakan hasil kerja sama berbagai pihak dengan melibatkan seniman potensial di Kabupaten Merauke. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Sanggar Seni Chapung Art Merauke yang dipimpin Selsius Djunianto Naraha atas dedikasi dan konsistensinya dalam mengembangkan seni daerah.

Menurut Hendrikus, kontribusi para pelaku seni memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan kebudayaan di Kabupaten Merauke dan Provinsi Papua Selatan secara umum. Karena itu, ia berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi dapat memberikan perhatian dan dukungan terhadap kegiatan serta kreativitas para seniman.

Inisiator kegiatan, Selsius Djunianto Naraha alias Chapung, menjelaskan bahwa festival ini merupakan bentuk kolaborasi komunitas, sanggar seni, perupa, dan individu untuk merayakan Hari Kebudayaan Nasional. Pelaksanaan kegiatan pada 24–25 Oktober dilakukan setelah jadwal awal peringatan pada 17 Oktober disesuaikan dengan sejumlah pertimbangan.

Berbagai agenda dihadirkan dalam festival tersebut, mulai dari pameran seni rupa yang melibatkan enam perupa dalam satu area pameran, pertunjukan tari, musik, diskusi atau talk show, hingga lomba mewarnai bagi anak-anak.

Pertunjukan seni melibatkan sanggar tari dari sekolah, komunitas sanggar tari, grup musik dari Komunitas Muka, serta Sanggar Bersaudara. Panitia juga menghadirkan diskusi bersama grup musik legendaris Black Sweet sebagai ruang berbagi pengalaman dan edukasi bagi generasi muda mengenai perjalanan serta perkembangan dunia musik.

Chapung mengatakan, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut cukup tinggi. Hal ini terlihat dari jumlah peserta lomba mewarnai yang melampaui perkiraan panitia. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak diharapkan dapat mengembangkan kreativitas dan potensi seni rupa sejak dini, sedangkan generasi muda lainnya didorong untuk berani berkarya dan terlibat dalam kegiatan seni budaya.

“Kami berharap kegiatan ini minimal bisa mengedukasi dan menarik minat generasi muda untuk terjun ke dunia seni. Mereka juga tidak perlu merasa takut untuk berkarya,” ungkapnya.

Festival Mr-Oke Kolaborasi diharapkan menjadi ruang pertemuan bagi para pelaku seni, masyarakat, dan pemerintah untuk memperkuat kolaborasi dalam pelestarian kebudayaan. Melalui kegiatan ini, seni tidak hanya ditampilkan sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi, pengembangan kreativitas, serta upaya memperkenalkan dan mengangkat identitas budaya daerah kepada generasi penerus. (Tya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *