Merauke, Jurnal Selatan Papua – Suasana berbeda terasa di Kompleks Sulaiman Hamzah Center, Masjid Farraj Al-Ham, Kampung Kuper, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar keluarga besar H. Sulaiman L. Hamzah, H. Abid Fuad dan Dr. Hj. Fauzun Nihayah, tidak hanya menjadi ajang pengajian, tetapi juga ruang mempererat persaudaraan sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya membangun generasi Papua Selatan.
Pengajian Akbar tersebut menghadirkan KH. Subkhi Al Bughuri sebagai penceramah. Sejumlah tokoh dan masyarakat dari berbagai wilayah turut hadir, mulai dari Kurik, Jagebob, Tanah Merah hingga Asiki, Kabupaten Boven Digoel.
Kehadiran jamaah dari berbagai daerah membuat peringatan Maulid terasa sebagai pertemuan besar dalam semangat persaudaraan. Terlebih, acara juga dikemas dengan suasana yang lebih akrab melalui penampilan komedian H. Alfiansyah Komeng dan Kimau yang menghibur jamaah.
Wakil Bupati Merauke, Dr. Hj. Fauzun Nihayah, mengatakan peringatan Maulid Nabi merupakan agenda rutin keluarga besar yang setiap tahun dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai keagamaan sekaligus menjaga tali silaturahmi.
Ia memberikan apresiasi kepada seluruh panitia dan pihak yang telah mempersiapkan kegiatan tersebut selama kurang lebih satu minggu.
“Ini adalah penghargaan dan apresiasi yang luar biasa kepada keluarga besar kami. Kami tentu tidak bisa membalas kebaikan Bapak-Ibu semua, terutama kepada seluruh panitia yang sudah kurang lebih satu minggu menyiapkan semuanya dengan baik,” ujarnya.
Namun bagi Fauzun, makna Maulid tidak berhenti pada kemeriahan acara. Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW harus mampu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan akhlak Rasulullah.
“Harapan kita semua, Maulid Nabi tidak hanya sekadar kita peringati, tetapi dalam kehidupan sehari-hari akhlak Rasulullah SAW juga menjadi suri teladan bagi kita semua,” katanya.
Di balik pelaksanaan Maulid tersebut, terselip pula visi yang lebih luas dari keluarga besar Sulaiman Hamzah.
Sulaiman Hamzah Center diharapkan tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan, tetapi berkembang menjadi ruang pelayanan masyarakat di bidang pendidikan, keagamaan dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Fauzun mengatakan, keluarga besarnya memiliki komitmen untuk terus membersama masyarakat, khususnya anak-anak Papua. Salah satu cita-cita yang ingin diwujudkan adalah membangun tempat pelatihan yang dapat meningkatkan keterampilan Orang Asli Papua (OAP).
“Sulaiman Hamzah Center ini adalah bagian dari komitmen kami sekeluarga untuk menghadirkan pelayanan kepada masyarakat, terutama di bidang pendidikan dan keagamaan,” jelasnya.
“Kami punya mimpi, selama ini kami sekeluarga selalu membersamai anak-anak Papua dalam berbagai hal. Salah satu mimpi kami, di tempat ini kami juga akan membangun tempat pelatihan dalam peningkatan skill Orang Asli Papua,” ungkap Fauzun.
Ia menyadari cita-cita tersebut membutuhkan kerja bersama. Karena itu, sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam mewujudkan berbagai program pelayanan masyarakat.
“Kita bisa bersinergi, bisa saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Kami sadar masih banyak kekurangan dalam segala pelayanan. Tetapi insyaallah ketika kita semua saling mendoakan dan saling menguatkan, semua akan bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.
Maulid sebagai Momentum Merawat Kedamaian
Pesan mengenai persaudaraan dan kehidupan damai juga mengemuka dalam kegiatan tersebut.
Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa, menegaskan bahwa kegiatan keagamaan tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Menurutnya, Maulid harus menjadi momentum untuk memperkuat iman, persaudaraan, toleransi dan keharmonisan masyarakat.
“Jadi kegiatan hari ini tidak hanya sekadar seremoni. Kegiatan hari ini tidak sebatas kita hanya saling bertemu dan memandang. Tetapi kegiatan hari ini harus dijadikan sebagai momentum penuh iman yang mari kita sama-sama istiqamah ke depan,” ujarnya.
Paskalis juga melihat keberadaan Sulaiman Hamzah Center sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia di Papua Selatan. Ia berharap tempat tersebut dapat melahirkan generasi muda yang memiliki kemampuan dan daya saing.
“Semoga tempat ini akan melahirkan anak-anak muda, generasi muda yang berpotensi, yang berdaya saing, yang unggul untuk membangun Papua Selatan ke depan,” katanya.
Ia sekaligus mengajak masyarakat menjaga keamanan dan kedamaian di Papua Selatan. Menurutnya, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun daerah, bukan sumber perpecahan.
“Di Papua Selatan tidak ada pertikaian, tidak ada sara-menyara, tidak ada baku tembak. Di Papua Selatan hanya ada yang namanya kondusif, aman, damai, penuh kekeluargaan dan penuh persaudaraan,” tegasnya.
Pesan serupa disampaikan Pangdam XXIV/Mandala Trikora, Mayjen TNI Frits Wilem Rizard. Ia mengajak masyarakat menjaga keharmonisan antarumat beragama sebagai bagian dari upaya mempertahankan persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara itu, KH. Subkhi Al Bughuri dalam tausiyahnya mengajak jamaah untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT. Salah satu nikmat yang ditekankan adalah kesehatan yang nilainya tidak dapat begitu saja digantikan dengan harta benda.
Ia juga mengingatkan jamaah agar menjadikan kehidupan dan akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Pesan keagamaan tersebut kemudian berpadu dengan suasana hiburan ketika komedian H. Alfiansyah Komeng dan Kimau tampil di hadapan jamaah. Kehadiran keduanya membuat suasana pengajian menjadi lebih cair, penuh keakraban dan menghadirkan tawa di tengah rangkaian kegiatan.
Peringatan Maulid kemudian ditutup dengan pembagian doorprize bagi jamaah. Salah satu hadiah utama yang disiapkan panitia adalah tiket umrah ke Madinah.
Rangkaian kegiatan tersebut akhirnya meninggalkan pesan bahwa peringatan Maulid Nabi di Sulaiman Hamzah Center bukan hanya tentang mengenang kelahiran Rasulullah SAW.
Lebih dari itu, Maulid menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat, memperkuat silaturahmi, meneguhkan semangat toleransi serta menanamkan cita-cita membangun generasi Papua Selatan yang beriman, terampil dan berdaya saing.Kalau ingin dibuat lebih “berkelas koran nasional”, judulnya bisa diarahkan ke angle yang lebih tajam, misalnya: “Maulid Nabi di Kuper: Ketika Dakwah, Tawa dan Mimpi Membangun Generasi Papua Selatan Bertemu”. (Tya)








Leave a Reply