Merauke, Jurnal Selatan Papua — Pemerintah Kabupaten Merauke melalui Distrik Merauke bersama 11 kelurahan di bawahnya kembali menunjukkan komitmen menjaga kebersihan lingkungan. Jumat pagi ini, mereka melaksanakan kerja bakti massal di dua titik rawan sampah: kawasan Cikombong, Kelurahan Kelapa Lima, dan area pemandian air panas di Kelurahan Maro.
Aksi ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Bupati Merauke yang menetapkan hari Jumat sebagai hari kerja bakti rutin bagi aparatur pemerintah dan masyarakat. Kepala Distrik Merauke, Arnoldus Ruldof, memimpin langsung kegiatan tersebut.
“Sesuai instruksi Pak Bupati Merauke, setiap Jumat kami wajib melakukan kerja bakti. Hari ini kami bersama 11 kelurahan membersihkan dua lokasi utama yang menjadi sumber tumpukan sampah,” ujar Arnoldus kepada wartawan, Jumat (9/5/2025).

Namun kondisi di lapangan menunjukkan persoalan serius. Di kawasan Cikombong, sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan oleh warga terlihat berserakan dan masuk ke dalam drainase. Hal ini menyebabkan penyumbatan parah, yang berujung pada banjir saat hujan turun di kawasan pemukiman Blorep Permai.
“Minggu lalu sebenarnya sudah dilakukan pembersihan oleh kolaborasi Persikindo bersama WWF yang dipimpin Ibu Fauzun Nihayah, Wakil Bupati Merauke. Tapi hari ini kami temukan sampah hanya digeser ke dalam dan malah menyumbat drainase. Proses pengangkatan pun terkendala dan kami butuh bantuan alat berat,” ungkapnya.
Arnoldus menyampaikan bahwa pihaknya telah mengajukan permintaan bantuan kepada dinas teknis seperti Dinas Lingkungan Hidup serta PUPR bidang Sumber Daya Air (SDA) untuk mendukung pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) Bokem.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengkritisi rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
. “Kami mohon masyarakat tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke dalam saluran air. Gunakan tempat sampah dan berlangganan layanan pengangkutan sampah,” imbaunya.
Ia menambahkan, pemerintah distrik juga telah melakukan dialog sebelumnya dengan berbagai pihak. Sebagai tindak lanjut, Arnoldus mendorong diadakannya rapat koordinasi bersama stakeholder terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup, RT, RW, hingga penyusunan regulasi untuk mendorong masyarakat berlangganan sampah.
“Masalah kebersihan ini tidak lepas dari keterbatasan sarana prasarana. Kota Merauke masih kekurangan tempat pembuangan sampah, petugas kebersihan, dan kendaraan pengangkut,” tutupnya.
Aksi bersih-bersih ini diharapkan menjadi momentum peningkatan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga lingkungan, demi Merauke yang bersih dan bebas banjir. (Ci)











Leave a Reply