Merauke, Jurnal Selatan Papua – Upaya pengendalian penyakit menular seperti Malaria, HIV/AIDS, dan Tuberculosis (TB) tidak hanya bergantung pada tenaga medis di fasilitas kesehatan, tetapi juga pada penguatan peran kader kesehatan di tingkat komunitas. Hal ini menjadi fokus dalam Pelatihan Integrasi Kader Malaria, HIV/AIDS, dan TB yang dilaksanakan oleh Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (PERDHAKI) yang berlangsung di ruang meeting Kidup Hotel Swissbell, Merauke (28/7/2025).
Sebanyak 30 kader dan 7 tujuh pendamping dari tujuh Puskesmas di Kabupaten Merauke mengikuti pelatihan ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas mereka dalam mendukung program nasional pengendalian tiga penyakit menular utama tersebut.
“Selain kasus HIV yang meningkat, Sipilis juga ikut meningkat dalam 2 tahun terakhir, hal tersebut merupakan pekerjaan rumah yang berat bagi kader mengingat target yang dicanangkan pemerintah ditahun 2030 tidak ada lagi kasus baru untuk 3 penyakit ini. Semua Penderita HIV yang ditemukan harus mendapatkan obat ARV dan terus didampingi agar semangat hidupnya tinggi”, terang dr. Nevile Muskita Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke dalam sambutannya, Senin (28/7/2025). Dalam kesempatan itu, dr. Nevile Muskita juga secara resmi membuka acara pelatihan.

Lanjutnya, “Kader harus lebih peka dalam mengedukasi masyarakat untuk tidak menganggap sepele penyakit Malaria karena jenis penularannya yang tidak seperti TB dan HIV yaitu dengan melakukan kontak langsung dengan penderita. Kader harus mengedukasi masyarakat tentang bahaya penularan Malaria yang ditularkan oleh nyamuk dan lebih sulit dihindari”.
Sementara itu, Program Manajer SSR PW KAMe, Eka Chris Prasetia, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat peran kader di lapangan
“Para kader bukan hanya pelengkap, tapi kunci utama dalam rantai penanggulangan penyakit. Mereka yang setiap hari bersentuhan langsung dengan masyarakat, dan mereka pula yang bisa mendeteksi, mendampingi, serta melaporkan kasus sejak dini,” ujar Eka Chris Prasetia, Senin.

“Melalui pelatihan ini, kader tidak hanya difokuskan pada penanggulangan malaria sebagai tugas awal mereka, tetapi juga diperluas perannya untuk mengedukasi masyarakat tentang HIV/AIDS dan TB. Keterampilan komunikasi perubahan perilaku, kemampuan skrining sederhana, serta teknik pencatatan dan pelaporan menjadi bagian penting dari materi pelatihan” sambungnya.
Pelatihan ini juga mendorong kader agar tidak hanya menjalankan edukasi dan pelaporan secara pasif, tetapi juga aktif menjalin koordinasi dengan Puskesmas. Hal ini bertujuan agar alur informasi tidak hanya satu arah, tetapi bisa bersifat dua arah baik dari masyarakat ke fasilitas layanan, maupun sebaliknya.
“Kami ingin kader percaya diri dan berani tampil sebagai pemimpin kesehatan di lingkungannya, terutama saat mereka turun langsung ke kampung-kampung. Inilah bentuk penguatan kapasitas yang kami bangun,” tegas Eka Chris.
Dengan pelatihan ini, PERDHAKI berharap kader Perkasa mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya menginformasikan, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk hidup sehat, mencegah, dan mengatasi penyakit secara kolektif. (Tya)





Leave a Reply